Categories
Uncategorized

7 Kebiasaan yang Akan Mengubah Anda Dari yang Khawatir menjadi Pemecah Masalah

Pernahkah Anda mencoba menyelesaikan suatu masalah hanya untuk diliputi oleh perasaan cemas dan khawatir sampai-sampai Anda tidak dapat menemukan solusi sama sekali? Apakah Anda mencoba menjadi pemecah masalah yang lebih baik daripada khawatir?

Khawatir sangat kuat dan dapat menyabotase Anda sepenuhnya, mencegah momentum ke depan.

Kabar baiknya adalah Anda dapat belajar mengubah kebiasaan yang dipicu oleh kecemasan menjadi kebiasaan yang produktif dan efektif. Yang dibutuhkan hanyalah sedikit usaha dan sedikit keberanian, tetapi tentu saja, itu lebih sulit untuk dilakukan daripada yang terlihat. Terlepas dari itu, berikut adalah 7 kebiasaan yang akan mengubah Anda dari pencemas menjadi pemecah masalah.

1. Mendefinisikan Masalah Secara Akurat

Masalah bisa terasa membebani jika Anda tidak mendefinisikannya, dan lebih buruk lagi, bahkan jika Anda tidak merasa terbebani olehnya, kurangnya definisi yang tepat dapat menyebabkan Anda menangani masalah yang salah. Informasi yang tidak relevan adalah salah satu hal utama yang menghalangi positif pemecahan masalah, bahkan dalam situasi langsung.

Jika Anda ingin mengetahui akar masalah, Anda perlu tahu persis apa yang sedang terjadi. Gali lebih dalam, di luar level permukaan, untuk menemukan alasan sebenarnya di balik sebuah masalah. Salah satu cara untuk melakukannya adalah melalui prosedur “5 mengapa”. Ini melibatkan menanyakan “mengapa” berulang kali ke masalah, secara progresif bergerak dari satu titik ke titik lain sampai Anda menemukan jawabannya. Sebagai contoh:

Masalah Awal: Pekerjaan saya berkualitas rendah.

  • Mengapa 1: Mengapa saya selalu berakhir dengan mengirimkan karya berkualitas rendah? Itu karena saya menunda-nunda.
  • Mengapa 2: Mengapa saya menunda-nunda? Saya tidak merasa termotivasi untuk melakukan apa pun sampai menit terakhir.
  • Mengapa 3: Mengapa saya tidak termotivasi sampai menit terakhir? Pekerjaan membuatku stres, jadi aku tidak ingin melakukannya.
  • Why 4: Mengapa pekerjaan membuat saya stres? Saya merasa kewalahan.
  • Mengapa 5: Mengapa menurut saya pekerjaan membuat saya kewalahan? Terlalu banyak yang menumpuk sekaligus.

Definisi Masalah: Saya merasa kewalahan dengan banyaknya pekerjaan, jadi saya menunda-nunda sampai terlambat untuk melakukan pekerjaan berkualitas tinggi.

Solusi: Saya harus memecah tugas kerja menjadi tujuan-tujuan kecil, sehingga mereka merasa lebih bisa diatur.

Menemukan akar masalah memberdayakan Anda dan kemampuan pemecahan masalah Anda, mencegah kecemasan dan kekhawatiran berakar. Ini menunjukkan kepada Anda bahwa Anda dapat memecah masalah apa pun menjadi tulang belulangnya dan menemukan solusi untuk mereka, hanya dengan beberapa “mengapa”!

2. Belajar Komunikasi Positif

Orang-orang yang khawatir cenderung menjadi komunikator yang buruk, karena mereka menghabiskan waktu mereka mencoba yang terbaik untuk menghindari keterlibatan dan cenderung menutup diri untuk mencegah kecemasan tambahan. Jika Anda ingin menjadi pemecah masalah, Anda pasti ingin berkomunikasi dengan baik dengan orang lain. Bagaimanapun, terkadang Anda memiliki lebih banyak positif hasil dari upaya pemecahan masalah kolaboratif!

Ini karena banyak masalah melibatkan orang lain. Miskomunikasi, kesalahpahaman, dan ketidaksepakatan umum semuanya dapat menyebabkan masalah dan situasi sulit. Untuk mengatasi keadaan ini, keterampilan komunikasi Anda harus tepat sasaran. Berikut beberapa kebiasaan untuk menginternalisasi untuk meningkatkan komunikasi dari pemecahan masalah:

· Dengarkan Secara Efektif

Praktik pemecah masalah yang baik teknik mendengarkan yang efektif dan kebiasaan. Mereka menggunakan empati dan menempatkan diri mereka pada posisi orang lain untuk benar-benar memahami dari mana mereka berasal. Mereka memberi orang keuntungan dari keraguan sebagian besar dan mengakui pernyataan orang lain, tidak pernah membatalkannya.

· Berkomunikasi dengan Baik

Komunikasi verbal dan nonverbal sangat penting untuk pemecahan masalah dalam kelompok. Belajar mengartikulasikan pikiran Anda dengan cara yang tidak menuduh dan positif sambil mempertahankan bahasa tubuh yang terbuka dan netral sangatlah penting. Ini membutuhkan beberapa latihan, tetapi Anda bisa mulai dengan menggunakan pernyataan “Saya”, seperti “Saya merasa…”, “Saya pikir…”, dan “Saya percaya…”.

· Jangan Menyalahkan

Menunjuk orang lain adalah cara jitu untuk meningkatkan ketegangan tanpa menemukan solusi apa pun. Orang secara alami bersikap defensif ketika dituduh, dan melemparkan tanggung jawab ke depan dan belakang alih-alih mengambil kepemilikan dan akuntabilitas hanya akan menunda penyelesaian masalah. Akui kesalahan Anda, jangan membuat masalah bagi orang lain, dan carilah solusi daripada memilih pertengkaran baru.

3. Menciptakan Ketidakpastian

Kepastian itu nyaman. Tapi itu pasti tidak membantu. Orang-orang yang khawatir sering kali menciptakan ruang yang hanya nyaman bagi mereka, dan mereka tetap berada dalam alam batin zona nyaman mereka selamanya. Ini adalah siklus ketakutan yang tak ada habisnya, dan masuk akal – situasi ketidakpastian dapat mengaktifkan respons stres.

Sayangnya, tidak mungkin mengetahui segalanya karena tidak mungkin mengendalikan kehidupan dan dunia. Tapi itu hanya menambah rasa takut yang dirasakan para pencemas. Semakin mereka mencoba mengendalikan zona nyaman mereka, semakin banyak momen kecemasan yang tidak dapat dihindari setiap hari merayap pada mereka dan mendorong mereka lebih jauh ke dalam persembunyian.

Itulah mengapa pemecah masalah tidak hanya belajar untuk merasa nyaman dengan hal-hal yang tidak nyaman. Lebih dari itu, mereka benar-benar berusaha keras untuk menciptakan contoh ketidakpastian. Mereka menikmati tantangan karena hal itu menguji pikiran mereka, membuat mereka jauh lebih mahir dalam menangani masalah ketika mereka berada di luar kendali mereka.

Belajar untuk merasa nyaman dalam ketidakpastian sampai-sampai Anda berusaha menciptakannya terdengar tidak biasa. Tapi itu juga memberi Anda banyak pengalaman yang seharusnya Anda takuti. Anda bisa secara aktif mengejar hal-hal yang biasanya terlalu takut untuk Anda lakukan karena Anda mencari ketidakpastian di mana-mana – mengapa tidak berkembang di dalamnya juga?

4. Memperluas Opsi

Berpikir sempit adalah pembunuh untuk pemecahan masalah. Untuk menemukan solusi sejati, Anda harus dapat mempertimbangkan hal-hal di luar pola pikir Anda yang khas. Orang-orang yang khawatir menghabiskan banyak waktu dalam gelembung kecil mereka sendiri, dan Anda perlu memiliki konsep yang lebih luas tentang pencarian solusi jika Anda benar-benar ingin memecahkan masalah. Berikut beberapa cara untuk melakukannya:

· Sebutkan Beberapa Solusi

Saat Anda bertukar pikiran, buat daftar solusi sebanyak mungkin, bahkan solusi yang pada awalnya tampak tidak sepadan. Jangan merasa konyol untuk benar-benar menulis segalanya; Anda dapat memotong yang tidak dapat digunakan dengan cukup cepat setelah sesi curah pendapat.

· Jelajahi Ide Lain

Pikiran awal Anda mungkin tampak seperti jawaban yang jelas, tetapi pemikiran tentang perspektif dan ide lain dapat memberikan pilihan yang lebih inovatif. Berbicara dengan orang lain, berpikir di luar kebiasaan, dan mempertimbangkan semua sudut dengan benar adalah cara yang bagus untuk memperluas kemungkinan pilihan Anda. Tanpa memikirkan ide alternatif, Anda akhirnya terjebak dalam pola melakukan hal yang sama berulang kali, yang dapat memperburuk kekhawatiran Anda.

· Lakukan Beberapa Rekayasa Terbalik

Berpikir ke belakang adalah cara yang sangat baik untuk mengubah kekhawatiran menjadi produktivitas. Pada dasarnya, ini memungkinkan Anda untuk memvisualisasikan hasil yang diinginkan, sehingga meningkatkan pemikiran positif dan mengurangi kecemasan. Kemudian, Anda dapat mundur dari hasil itu untuk menemukan langkah-langkah yang mengarah ke sana.

5. Percaya Pada Peningkatan Dengan Pola Pikir Pertumbuhan

Orang yang khawatir cenderung membuat bencana. Semuanya terasa seperti akhir dunia bagi mereka, membuatnya sulit untuk melihat cahaya di ujung terowongan. Ini adalah pengalaman umum bagi mereka yang mengalami gangguan depresi dan kecemasan. Yang dikurangi berpikir positif dari bencana ini dapat membentuk siklus tidak sehat di mana Anda tidak mencoba untuk meningkatkan karena Anda pikir itu semua tidak berharga.

Pola pikir tetap adalah pola pikir di mana individu percaya bahwa keadaan itu statis dan tidak dapat diubah atau tidak dapat melakukan apa pun untuk memperbaikinya. Ini juga menunjukkan pikiran tertutup, di mana orang yang khawatir tidak akan terbuka untuk belajar dari kemalangan atau mengembangkan ide mereka berdasarkan informasi baru.

Di sisi lain, mindset berkembang adalah pola pikir yang melibatkan keyakinan akan perbaikan. Ini menunjukkan seseorang yang mau belajar sambil berjalan, mengasah berbagai keahlian, dan dengan bersemangat menghadapi masalah dan menyelesaikannya. Kemudian, setelah masalah berlalu, mereka tahu dari pengalaman dan meningkatkan diri.

Orang-orang yang khawatir memiliki pola pikir yang tetap. Pemecah masalah justru memiliki mindset berkembang dan akan selalu mencari perbaikan. Jika Anda belajar menemukan peluang untuk belajar dan tumbuh bahkan dalam situasi sulit, Anda akan jauh lebih baik dalam menangani dan menemukan solusi untuk kondisi buruk.

6. Mengurangi Ego

Ego mencegah Anda memecahkan masalah karena itu menempatkan Anda pada posisi yang tinggi dan berkuasa. Ini artinya kamu:

  • Tidak terbuka untuk mempelajari hal-hal baru
  • Menolak untuk menerima bagian Anda dalam masalah
  • Bersikeras bahwa metode Anda adalah yang terbaik, bahkan ketika tidak
  • Sangkal adanya masalah, untuk memulai
  • Harus selalu benar

Tapi apa hubungannya ini dengan kekhawatiran? Tingkat ego yang tinggi sering kali dikaitkan dengan beberapa bentuk mekanisme pertahanan. Banyak orang menggunakan ego tinggi yang protektif sebagai metode untuk mengelola kecemasan. Jika ini menggambarkan Anda, ketahuilah bahwa ego ini sebenarnya menghalangi proses belajar Anda.

7. Membingkai Ulang Masalah dan Rintangan

Masalah adalah hal biasa dalam hidup, dan orang yang cemas cenderung terhambat olehnya. Trik untuk menanganinya sederhana: belajarlah untuk membingkai ulang mereka! Tentu saja, ini lebih mudah diucapkan daripada dilakukan, tetapi itu adalah kebiasaan belajar yang berharga jika Anda ingin menjadi lebih baik dalam memecahkan masalah.

Orang yang khawatir, ketika mereka mengalami masalah – terutama yang mereka rasa bertanggung jawab – mungkin merasa seolah-olah mereka gagal atau seolah-olah mereka telah gagal. Mereka mungkin mengalami emosi seperti:

  • Kegelisahan
  • Takut
  • Frustrasi
  • Kesalahan
  • Kekurangan
  • Malu

Tetapi ketika Anda mendekati masalah dengan berpikir positif, Anda akan bisa keluar dari perasaan buruk itu dan melihat situasinya secara realistis, sehingga memungkinkan Anda untuk lebih baik dalam menanganinya secara alami. Alih-alih tenggelam dalam pola negatif, saat Anda melihat masalah muncul, pelajari cara membingkainya dengan cara baru. Jadi katakan pada diri sendiri:

  • Itu tidak berhasil; apa lagi yang bisa saya coba?
  • Saya harus meminta bantuan agar saya bisa belajar dari orang lain.
  • Itu berjalan buruk; bagaimana saya bisa menghindari kekambuhan?
  • Itu tidak berjalan sesuai rencana; bagaimana saya bisa belajar dari ini?
  • Ini sulit bagi saya, tetapi tantangan akan membantu saya tumbuh.

Pikiran Akhir Tentang Beberapa Kebiasaan Untuk Diadopsi Menjadi Pemecah Masalah

Khawatir dapat melelahkan dan membiarkan diri Anda untuk mengendalikannya dapat menimbulkan kesulitan dalam kehidupan sehari-hari. Terkadang, masalah bisa menjadi lebih signifikan dan lebih merepotkan jika Anda diliputi kecemasan. Menerapkan kebiasaan yang mengubah kekhawatiran menjadi solusi adalah keterampilan yang bermanfaat, jadi pelajari kebiasaan ini, dan Anda akan jauh lebih baik dalam menemukan cara yang inovatif dan efektif untuk mengatasi rintangan di jalan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *