Categories
Uncategorized

Bisakah Monolaurin Melawan Coronavirus (COVID-19)?

//

Artikel ini hanya untuk tujuan informasi. Wabah virus korona saat ini adalah peristiwa yang sedang berlangsung dan detail tertentu dapat berubah saat informasi baru terungkap. Tidak ada produk yang efektif atau disetujui FDA saat ini tersedia untuk pengobatan virus corona baru (juga dikenal sebagai SARS-CoV-2 atau 2019-nCoV), meskipun penelitian masih berlangsung.

Potensi Anti Infeksi

Monolaurin mungkin aktif melawan virus yang memiliki membran lemak (lipid) di bagian luar. Karena monolaurin berukuran sama dengan molekul lemak virus, ia menyerap ke dalam lapisan lemak sel. Karena tidak memiliki daya ikat yang baik, selubung kulit akan pecah. Ini mencegah virus menempel dan memasuki sel inang, menghentikan infeksi dan replikasi. Perlu diingat bahwa ini hanyalah teori yang belum terbukti berdasarkan studi seluler [1, 2].

Para ilmuwan berpikir monolaurin dapat mengganggu replikasi virus dengan memblokir sinyal replikasi DNA. Di laboratorium, ketika monolaurin berikatan dengan selubung virus, itu membuat virus lebih rentan terhadap sistem kekebalan. [3, 4].

Gliserol monolaurat melindungi kera dari infeksi virus terkait HIV (SIV) dan menghambat tanggapan kekebalan terhadap virus ini dalam sel. [5].

Di piring, monolaurin menunjukkan aktivitas melawan virus berikut, yang memiliki selubung lemak [6]:

  • Sitomegalovirus [7]
  • Virus Epstein-Barr
  • HIV-1, HIV +
  • Virus campak
  • Virus herpes simpleks-1 dan 2
  • Herpesviridae (semua)
  • Virus limfotropik manusia (tipe 1)
  • Virus stomatitis vesikular
  • Virus Visna
  • Virus influenza
  • Varicella zoster (cacar air) [8]
  • Flu babi [9]
  • Pneumovirus
  • Virus sarkoma
  • Virus syncytial

Monolaurin menunjukkan aktivitas antivirus pada hewan melawan virus Herpes simplex (yang menyebabkan luka dingin) [10].

Namun, monolaurin (5% gliserol monolaurat dalam jelly penghangat atau air asin) sangat meningkatkan penularan herpes genital pada tikus, kemungkinan dengan mengganggu fungsi pelindung lapisan vagina. [11].

Ada banyak laporan anekdotal tentang monolaurin yang membantu memerangi flu. Tidak ada bukti yang sah untuk mendukungnya. Monolaurin dari ASI efektif melawan cytomegalovirus (CMV) tetapi tidak efektif melawan virus penyebab flu, rhinovirus [7].

Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa monolaurin merusak selubung lemak virus dan juga bisa efektif melawan SARS-CoV-2. Namun, tidak ada bukti bahwa ini akan membantu mencegah atau mengobati COVID-19 pada manusia.

Sistem imun

Gliserol monolaurat meningkatkan proliferasi sel T (tetapi tidak sel B) [12].

Namun, penelitian lain menemukan bahwa senyawa ini juga mengubah membran lemak sel T, mengakibatkan perubahan dalam pensinyalan dan fungsinya (misalnya, berkurangnya produksi sitokin seperti IL-2, IFN-γ, TNF-α, dan IL-10. ) [13].

Ini menyiratkan bahwa monolaurin dapat merusak fungsi kekebalan dan berpotensi lebih berbahaya daripada kebaikan dalam kasus COVID-19.

Ingatlah bahwa ini semua hanyalah teori, dan tidak ada bukti kuat untuk mengetahui apakah itu akan membantu atau berbahaya dalam COVID-19.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *